PROBOLINGGO, IniBaruBerita.Id – Kesulitan mendapatkan air bersih masih dirasakan warga RT 12 RW 03, Dusun Gudang, Desa Malasanwetan, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo. Selama enam hari terakhir, masyarakat harus menghadapi keterbatasan air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Bantuan air melalui mobil tangki kembali disalurkan untuk meringankan beban warga.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan yang datang disambut rasa syukur oleh masyarakat. Aminah (63), salah seorang warga, mengungkapkan bahwa persoalan air bersih di lingkungannya telah disampaikan kepada anggota DPRD Kabupaten Probolinggo, Feri Gita Rahayu. Aspirasi tersebut kemudian diteruskan kepada anggota Komisi VIII DPR RI, Dini Rahmania, hingga mendapat tindak lanjut berupa penyaluran bantuan.
“Alhamdulillah, saya telepon pertama kepada Bu Feri Gita Rahayu, kemudian diajukan kepada Ibu Dini Rahmania. Alhamdulillah ditanggapi. Saya sangat berterima kasih dan bersyukur,” kata Aminah.
Bagi warga, ketersediaan air bukan sekadar kebutuhan tambahan, melainkan penunjang utama aktivitas sehari-hari. Ketika pasokan terbatas, kegiatan seperti mandi, membersihkan rumah, dan memenuhi kebutuhan keluarga ikut terdampak.
Dini Rahmania menyampaikan bahwa bantuan tersebut merupakan respons atas aspirasi masyarakat Malasanwetan. Menurutnya, distribusi air bersih telah dilakukan sebanyak tiga kali karena kebutuhan warga di wilayah itu masih tinggi.
“Ini aspirasi masyarakat Desa Malasanwetan. Sudah ketiga kalinya bantuan air turun ke sini karena warga memang membutuhkan. Jadi, kami mengantar secara langsung,” ujar Dini.
Penyaluran bantuan diharapkan dapat membantu masyarakat melewati masa sulit ketika sumber air tidak mencukupi. Namun, berulangnya kebutuhan bantuan juga memperlihatkan bahwa persoalan ketersediaan air di wilayah tersebut belum sepenuhnya teratasi.
Dini mengungkapkan, kondisi kekurangan air turut memengaruhi kebiasaan warga dalam menjaga kebersihan diri. Ia mendengar langsung cerita masyarakat yang harus membatasi penggunaan air, termasuk untuk mandi.
“Tadi ada warga menyampaikan, karena tidak ada air bersih, mandinya hanya satu hari satu kali. Saya juga tanya, ‘pasti berwudu kan?’ Warga menjawab, ‘Iya, wudu untuk kebutuhan salat’,” tuturnya.
Kondisi ini menggambarkan besarnya arti akses air bersih bagi kehidupan masyarakat. Ketersediaan air yang memadai berkaitan erat dengan kebersihan, kesehatan, serta kelancaran aktivitas sehari-hari, termasuk menjalankan ibadah.
Karena itu, penanganan krisis air tidak cukup hanya dengan memastikan bantuan datang ketika warga mengalami kekurangan. Diperlukan upaya yang dapat menjaga ketersediaan pasokan agar masyarakat tidak terus bergantung pada distribusi darurat.
Dini menjelaskan bahwa upaya pengeboran sumber air di kawasan tersebut menghadapi kendala. Oleh sebab itu, diperlukan kajian untuk menentukan langkah yang paling sesuai dengan kondisi di lapangan.
Sejumlah alternatif mulai dipertimbangkan, di antaranya penyediaan tandon penampungan serta penggunaan pipa berdiameter lebih besar untuk membantu distribusi air kepada masyarakat.
“Kami upayakan mungkin ada tandon atau pipa yang lebih besar supaya bisa menyalurkan air. Harapan saya, saat musim kemarau tidak ada lagi warga yang mengeluh kekurangan air bersih,” tegasnya.
Opsi tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya mencari solusi yang lebih berkelanjutan. Meski demikian, realisasinya memerlukan koordinasi dan kajian teknis agar sarana yang dibangun benar-benar sesuai dengan kebutuhan warga.
Bagi masyarakat Desa Malasanwetan, bantuan mobil tangki menjadi penolong di tengah keterbatasan. Namun, harapan mereka tidak berhenti pada distribusi air yang bersifat sementara.
Warga membutuhkan kepastian bahwa air bersih dapat tersedia secara lebih stabil, terutama ketika musim kemarau kembali datang. Penanganan jangka panjang diharapkan mampu mengurangi risiko terulangnya krisis yang memaksa masyarakat menghemat air untuk kebutuhan paling mendasar.
Persoalan di Malasanwetan menjadi pengingat bahwa akses air bersih perlu ditangani secara berkesinambungan. Bantuan darurat tetap penting untuk memenuhi kebutuhan mendesak, tetapi penyediaan infrastruktur dan sistem distribusi yang memadai menjadi langkah yang perlu diperjuangkan agar warga tidak terus menghadapi kesulitan serupa.
“Tim Redaksi”







