Gresik – Para dokter spesialis kulit dan kelamin dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) turun langsung ke lingkungan pesantren. Mereka menggelar kegiatan pemeriksaan dan edukasi kesehatan kulit bagi santri di SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Minggu (19/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program nasional DeSkab (Deteksi Dini dan Eradikasi Skabies) yang dilaksanakan serentak di lima pesantren wilayah Lamongan, Paciran, dan Gresik.
Mengusung tema “Dari Perdoski untuk Indonesia: Deteksi Dini dan Eradikasi Skabies – Menuju Indonesia Bebas Skabies”, kegiatan ini menjadi upaya nyata mendorong pesantren bebas penyakit kulit menular seperti skabies atau kudis.
Koordinator Pengmas DeSkab MPKU Muhammadiyah, dr. Wind Faidati, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan jarak jauh bagi kader pesantren.
“Kami ingin menuju Indonesia bebas skabies tahun 2030. Kader pesantren sudah dibor agar bisa mendeteksi dini teman-temannya. Kalau ditemukan tanda-tanda skabies, bisa segera diperiksakan ke dokter,”ujarnya.
Menurut dr. Angin, pemilihan pesantren Muhammadiyah sebagai lokasi awal kegiatan dilakukan agar koordinasi lebih mudah pada tahap awal.
“Ini masih awal, jadi dari pusat pilih Muhammadiyah untuk mempermudah komunikasi. Nanti akan dikembangkan ke pesantren lain di seluruh Indonesia,” tambahnya.
Sekitar 35 dokter dari Perdoski Pusat dan Cabang Surabaya ikut terlibat dalam kegiatan ini. Mereka bekerja sama dengan kader pesantren untuk melakukan pemeriksaan kulit, pengobatan bagi santri yang terindikasi, dan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Sementara itu, Pondok Pesantren Mudir Muhammadiyah (MBS) Madinatul Ilmi Gresik, Muhammad Naufal, mengaku bersyukur pesantrennya menjadi satu-satunya lokasi kegiatan di wilayah Gresik.
“Kami berterima kasih sudah dipercaya. Penyakit ini memang sering muncul di pesantren, tapi setelah diperiksa Alhamdulillah tidak ada santri kami yang terjangkit,” katanya.
Naufal menjelaskan, pihaknya terus menjaga pola hidup bersih para santri dengan dukungan unit kesehatan sekolah (UKS).
“Kalau ada tanda-tanda penyakit kulit, kami langsung arahkan berobat atau minta izin pulang supaya tidak menular ke yang lain. Kesadaran santri tetap harus dijaga karena penyakit ini bisa menyerang siapa saja,” tambahnya.
Kegiatan yang juga didukung Galenium Pharmasia Laboratories dan ParagonCorp ini menjadi contoh sinergi lintas sektor antara tenaga medis, organisasi masyarakat, dan industri dalam meningkatkan kesehatan berbasis komunitas.
Melalui program ini, Perdoski berharap bisa memperluas gerakan Menuju Indonesia Bebas Skabies 2030 ke lebih banyak pesantren di seluruh Indonesia. “Bebas Gatal, Tingkatkan Prestasi,” menjadi semangat yang diusung seluruh peserta dalam kegiatan pengabdian masyarakat tersebut.
Reporter : Angga Purwancara







