Menu

Mode Gelap
Hampir Tiga Tahun Menanti Akta Tanah, Warga Banyuanyar Tengah Minta Kepastian Festival Antikorupsi Meriah, Dugaan Honor Paskibraka Masih Menggantung DPRD Probolinggo Setujui P-APBD 2026, Efisiensi Anggaran dan Kepentingan Masyarakat Jadi Prioritas RDP DPRD Probolinggo Soroti Dampak Jalur Alternatif Selama Renovasi Jembatan Curah Bubur Data Desil Berubah, Gus Haris Soroti Ketidaktepatan Data: Anggota DPR Desil 2, Nenek Sepuh Desil 9 Piala Golkar Cup di Desa Batur Gading Semarak, Ketua DPRD Probolinggo Oka Mahendra Hadir Bersama Ketua AMPG

Pemerintahan

Hari Autisme Sedunia 2026, Pemkab Gresik Perkuat Komitmen Pendidikan Inklusif dan Ramah Anak

badge-check


					Hari Autisme Sedunia 2026, Pemkab Gresik Perkuat Komitmen Pendidikan Inklusif dan Ramah Anak Perbesar

GRESIK — Pemerintah Kabupaten Gresik terus menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan kesetaraan dan pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Hal tersebut ditegaskan dalam peringatan Hari Autisme Sedunia 2026 yang digelar melalui kegiatan Akses Nyata Gerakan Kesehatan Anak Spektrum Autisme (Angkasa) di Gressmall Gresik, Kamis (2/4/2026).

Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, menegaskan bahwa pemerintah daerah terus hadir untuk mendengar dan memenuhi kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus, baik dari sisi pendidikan maupun layanan pendukung lainnya.

“Di momen Hari Autisme Sedunia ini, kami terus mencoba mendengar aspirasi dari anak-anak istimewa, mulai dari pihak sekolah hingga wali murid. Pemerintah daerah hadir melalui berbagai layanan untuk memastikan kebutuhan mereka terpenuhi,” ujar Bupati yang akrab disapa Gus Yani.

Ia menambahkan, Pemkab Gresik tidak hanya menunggu, tetapi juga aktif memberikan edukasi kepada sekolah-sekolah umum agar mampu menangani anak berkebutuhan khusus. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan bagi guru dengan metode pengajaran yang disesuaikan.

“Guru-guru di sekolah umum kami beri pelatihan agar bisa memahami cara mengajar anak-anak istimewa dengan pendekatan yang tepat, mendorong kemandirian, mengurangi potensi tantrum, serta meningkatkan kemampuan bersosialisasi,” jelasnya.

Selain itu, Pemkab Gresik juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang bebas dari perundungan (bullying) dan lebih ramah terhadap anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif dinilai menjadi kunci dalam mewujudkan Gresik sebagai kabupaten ramah anak.

Gus Yani juga mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap anak autis. Menurutnya, penerimaan tanpa stigma menjadi hal utama dalam membangun masyarakat inklusif.

“Penerimaan tanpa syarat menjadi poin penting. Jangan melihat mereka dengan kacamata kompetisi atau menganggap mereka nakal,” tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen, Pemkab Gresik telah menyediakan Unit Layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang dilengkapi berbagai fasilitas, mulai dari terapi hingga layanan penjemputan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga membuka parade anak-anak inklusif yang berlangsung meriah di area pusat perbelanjaan.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Gresik, S. Hariyanto, mengungkapkan bahwa sekitar 100 anak inklusif turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa peringatan Hari Autisme Sedunia memiliki sejumlah tujuan utama, di antaranya meningkatkan kesadaran masyarakat, mendorong inklusi sosial, memperkuat advokasi hak asasi manusia, mendorong deteksi dini dan intervensi, serta merayakan keunikan anak autis.

“Tren jumlah anak berkebutuhan khusus di Gresik terus meningkat, sehingga ini menjadi perhatian kita bersama agar kesetaraan terus digaungkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Dispendik Gresik menegaskan bahwa seluruh lembaga pendidikan formal diwajibkan menerima anak berkebutuhan khusus dan memberikan layanan sesuai dengan bakat serta minat mereka.

“Sekolah tidak boleh menolak anak autis atau anak berkebutuhan khusus. Semua harus diterima dan difasilitasi dengan baik,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan Kasi SMA dan PKLK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Gresik, Joko Sutopo, yang mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan perhatian, pemahaman, dan komitmen dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus.

Menurutnya, nilai kesabaran, keikhlasan, dan konsistensi menjadi kunci dalam proses pendampingan, baik oleh tenaga pendidik maupun orang tua. Ia juga menyoroti pentingnya program kelas industri yang mulai diterapkan di sejumlah satuan pendidikan, termasuk sekolah luar biasa (SLB), guna membekali siswa dengan keterampilan menghadapi dunia kerja.

Pemkab Gresik berharap, melalui berbagai langkah tersebut, anak-anak berkebutuhan khusus dapat memperoleh hak yang sama, mulai dari akses pendidikan hingga peluang kerja di masa depan, baik di sektor pemerintahan maupun swasta.

 

 

Reporter : Angga Purwancara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPRD Probolinggo Setujui P-APBD 2026, Efisiensi Anggaran dan Kepentingan Masyarakat Jadi Prioritas

10 September 2026 - 04:19 WIB

RDP DPRD Probolinggo Soroti Dampak Jalur Alternatif Selama Renovasi Jembatan Curah Bubur

9 September 2026 - 13:45 WIB

Data Desil Berubah, Gus Haris Soroti Ketidaktepatan Data: Anggota DPR Desil 2, Nenek Sepuh Desil 9

9 September 2026 - 13:38 WIB

SILPA Tinggi dan BTT Hampir Habis, Pemkab Probolinggo Berjanji Benahi Pengelolaan APBD

3 September 2026 - 20:14 WIB

Jembatan Curah Bubur Ditutup Total, DPRD Probolinggo Soroti Keselamatan Warga di Jalur Alternatif

3 September 2026 - 03:05 WIB

Trending di Pemerintahan