PROBOLINGGO, IniBaruBerita.id – Dinas perpustakaan dan kearsipan (Dispersip) Kabupaten Probolinggo menargetkan tahun ini perpustakaan desa (Perpusdes) di 98 Desa berbasis inklusi sosial.
Hal tersebut menjadi pembahasan saat bimbingan teknis (Bimtek) Strategi Pengembangan Perpustakaan dan teknologi informasi komunikasi (SPPTIK), Kamis (18/7/2024).
Sekretaris Dispersib Kabupaten Probolinggo Muhammad Abduh Ramin melalui pustakawan ahli muda Hesthiyono Suko Adhi mengatakan, pihaknya terus berupaya memberikan pemahaman terhadap pentingnya perpustakaan desa.

“Dari 325 desa, hampir 50 persen lebih memiliki perpusdes. Namun, optimalisasi fungsi perpusdes inilah yang masih perlu dibangun selaras,” ujarnya.
Menurutnya konsep perpustakaan konvensional, yang menjadikan perpustakaan hanya sebagai fasilitas untuk membaca buku kurang menyentuh terhadap kepentingan masyarakat. Konsep tersebut ialah perpusdes inklusi sosial.
“Konsep yang digunakan bukan lagi konvensional. Namun dijadikan perpus dijadikan harus menjadi pusat informasi. Melaui buku, internet dan fasilitas lain. Termasuk peningkatan skill dan pemberdayaan masyarakat,” katanya.
Perubahan perpustakaan konvensional di Kabupaten Probolinggo menjadi inklusi sosial sudah dilakukan di beberapa desa. Sampai saat ini telah ada 71 desa replikasi konsep tersebut.
“Tahun ini, kita targetkan 27 Desa replikasi Perpusdes Inklusi sosial,” ujarnya.
Guna menyentuh hal tersebut, pihak dispersip melakukan kolaborasi dengan sejumlah pihak. Mulai dari tim penggerak PKK Kabupaten Probolinggo, DPMD, 10 orang duta digital Kementrian Desa (Kemndes) dan kader digital yang merupakan eksekutor pada program pemerintah smart Village atau Desa cerdas.
“Ada 50 desa di Kabupaten Probolinggo yang masuk pada Desa cerdas. Darisanalah kita dorong penerapannya. Monev dilakukan secara rutin untuk mengetahui perkembangan pengaplikasian konsep tersebut,” tambahnya.
Selain perpus inklusi sosial, bus Persib juga mendorong dalam penyelenggaraan perpustakaan digital. Sejauh ini ada sekitar 100 desa yang memiliki perpustakaan digital.
“Melalui kader digital, kita akan memfasilitasi perpustakaan digitalnya. Saat nanti desa tersebut memiliki website, maka kita bisa memberikan nickname dan password untuk dapat terhubung dengan perpustakaan digital. Karena memang berbasis website,” tandasnya.
Reporter : Ahmad







